Di Penghujung 25

Sebuah Catatan di Penghujung Dua Puluh Lima

Terkadang, menjelang hari lahir, aku suka menatap ke belakang, bukan untuk menyesali apapun, sekedar mengingat bagaimana aku sampai di titik ini. 

Tahun-tahun berlalu dengan begitu cepat, dan tanpa sadar, dua puluh lima pun hampir usai.


Di Penghujung Dua Puluh Lima

Di penghujung dua puluh lima, aku berhenti sejenak.
Bukan karena lelah, tapi karena ingin benar-benar merasakan seberapa jauh perjalanan ini membawaku. Kadang aku lupa, bahwa setiap langkah kecil pun layak dirayakan.

Selama setahun terakhir, banyak hal berjalan tak sesuai rencana. Ada yang hilang tiba-tiba, ada yang datang tanpa terduga. Dari semua itu, aku belajar bahwa hidup ini tidak pernah benar-benar salah arah. Ia hanya menuntun dengan cara yang tak disangka, lewat kehilangan, pertemuan, atay bahkan lewat diam yang penuh makna.

Tahun ini, aku banyak sekali belajar.
Belajar menjadi perempuan sungguhan.

Yang dewasanya bukan hanya dari usia, tapi dari cara menerima, memahami, dan berdamai dengan segala hal yang terjadi.
Aku belajar bahwa bahagia bukan tentang menunggu sesuatu datang, tapi tentang bagaimana aku bisa menciptakannya, untuk diri sendiri dan orang lain.

Aku belajar membahagiakan diri tanpa melukai siapa pun,
membahagiakan orangtua dengan cara-cara sederhana,
menyenangkan saudara,
dan menghangatkan orang-orang di sekitar dengan kebaikan yang mungkin tak terlalu kelihatan..


Aku ingin lebih bermanfaat, karena ternyata hidup terasa lebih indah saat kita berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusatnya.

Aku bersyukur.
Untuk setiap napas yang masih bisa kuhirup, untuk pagi yang masih setia datang, untuk doa-doa yang mungkin tak selalu lantang tapi selalu didengar Tuhan. Bahkan untuk keinginan-keinginan kecil yang belum sempat kuucapkan, tapi diam-diam sudah dikabulkan.

Aku juga bersyukur untuk orang-orang yang hadir di sekitarku..
yang menguatkan saat dunia terasa berat, yang menghangatkan hati saat sepi, dan yang diam-diam mendoakan dari jauh. Mereka menjadi alasan kenapa aku masih bisa tersenyum, masih punya semangat untuk melanjutkan hari-hari yang makin terasa berat.

Dan tentu, aku ingin berterima kasih pada diriku sendiri.
Untuk tetap berani di hari-hari yang sunyi.
Untuk tidak menyerah meski rasanya ingin berhenti.
Untuk terus bertahan, meski kadang semuanya terasa tak lagi ringan.

Aku juga minta maaf pada diri sendiri,
untuk waktu yang terbuang, untuk hati yang sering bimbang, untuk hal-hal yang belum sempat aku perbaiki. Aku tahu, aku belum sepenuhnya lapang menerima setiap ketetapan, tapi aku sedang belajar mengikhlaskan.


Perihal mimpi dan harapan

Kini aku percaya, mimpi akan tiba pada waktunya.
Kadang lewat jalan panjang, kadang lewat keajaiban kecil yang tak terduga.
Aku tak lagi ingin terburu-buru.
Aku hanya ingin berjalan dengan tenang, menyambut yang datang, melepaskan yang hilang, dan percaya bahwa semua yang tertulis untukku akan menemukan jalannya sendiri.

Selamat tinggal, dua puluh lima.
Terima kasih sudah menjadi bab yang penuh makna. Tentang luka yang menguatkan, tawa yang menyembuhkan, dan doa yang perlahan-lahan dikabulkan.

Kini aku membuka lembar baru, dengan doa yang sama:
semoga langkah-langkah ke depan selalu dipenuhi cahaya, kebaikan, dan ketenangan.
Semoga bahagianya lebih banyak, manfaatnya lebih luas,
dan aku bisa terus tumbuh menjadi seseorang yang membawa hangat,
bagi diri sendiri, keluarga, dan siapa pun yang Tuhan takdirkan untuk kutemui.


Ciamis, 28 Oktober 2025
Pingdi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembukaan